Ulama Tarekat dari Bone Tinggalkan Ratusan Manuskrip, Peneliti Pastikan Keasliannya

By Admin

Fadly Ibrahim menyerahkan buku yang ditulisnya kepada mantan Wapres RI, HM Jusuf Kalla/ Ist
nusakini.com, Bone, Sulawesi Selatan – Perkampungan Pompanua di Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tercatat memiliki jejak sejarah penting dalam penyebaran Islam di Nusantara melalui sosok Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al-Jawi al-Bugisi al-Buni.

Informasi tersebut disampaikan Fadly Ibrahim, keturunan langsung Syekh Abdul Majid, kepada wartawan pada Selasa, 21 Januari 2025. Ia menjelaskan bahwa leluhurnya merupakan ulama yang membawa dan mengembangkan ajaran tarekat di wilayah Bugis setelah lama bermukim di Makkah.

Menurut Fadly, Syekh Abdul Majid lahir di Pompanua pada 1820 dan berangkat ke Makkah pada 1834. Ia menetap di Tanah Suci sekitar 26 tahun untuk memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama terkemuka. Sekitar 1860, ia kembali ke Bone dan melanjutkan pengajaran Islam yang sebelumnya dirintis keluarganya.

Selain berdakwah, Syekh Abdul Majid dikenal produktif menulis dan menyalin kitab. Sejumlah karya tulisnya masih tersimpan di Pompanua, meski sebagian mengalami kerusakan karena faktor usia dan penyimpanan yang kurang memadai.

“Sebagian manuskrip ditemukan di atas plafon rumah dalam peti kayu. Ada yang rusak karena serangga,” ujar Fadly.

Peneliti Litbang Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Husnul Fatimah Ilyas, menyatakan timnya telah meneliti naskah tersebut. Berdasarkan kajian awal, manuskrip itu dinilai autentik dan memiliki nilai sejarah penting terkait transmisi keilmuan Islam di Sulawesi Selatan.

Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kementerian Agama juga mengidentifikasi mushaf bertahun 1845 di Sinjai yang ditulis Abdul Majid bin Syekh Abdul Hayyi, dilengkapi penjelasan qira’ah sab’ah.

Syekh Abdul Majid wafat pada 1878 dan dimakamkan di Pompanua. Jejak keilmuannya diteruskan oleh anak dan cucunya yang menjadi imam dan pejabat syariat di wilayah tersebut hingga pertengahan abad ke-20. (*)